Mengikuti Suara Allah

Di dalam kisah penciptaan, manusia telah memakan buah dari salah satu pohon yang ada di tengah taman Eden; buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Konsekwensi dari memakan buah ini adalah manusia tahu tentang yang baik dan yang jahat (Kej.3:22). Manusia telah tahu mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang berkenan di hadapan Allah dan yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Namun manusia tetaplah ciptaan Allah yang memiliki keterbatasan dan tidak sempurna, termasuk dalam mempertimbangkan mana yang benar-benar baik dan yang jahat.

Tema pada hari ini mengingatkan kepada kita agar tetap mengikuti Suara Allah, bukan suara-suara yang lain. Yeremia 17:7-8 berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijauh, yang tidak kuatir dalam tahun-tahun kering, dan yang itdak berhenti menghasilkan buah.” Ayat ini sungguh menunjukkan betapa terbatasnya hidup manusia. Meskipun manusia memiliki kemampuan membedakan yang baik dan yang jahat, namun hidup manusia ada di tangan Allah. Allah yang memiliki hidup manusia bukanlah Allah yang sewenang-wenang kepada manusia.

Dia adalah Allah yang ingin menjaga seluruh ciptaan-Nya tetap hidup dan menikmati berkat-Nya. Seperti halnya orang-orang di seluruh Yudea, Yerusalem, Tirus, dan Sidon yang berbondong-bondong ingin mendengarkan Dia, mendapatkan kesembuhan dari-Nya, dan terbebas dari kuasa roh jahat yang merasuki, apakah kita juga mau datang kepada Allah? Di dalam Allah ada Firman yang menghidupkan, ada kesembuhan, dan ada pemulihan bagi seluruh manusia. Allah adalah allah bagi seluruh manusia, mereka yang disebut orang percaya, maupun mereka yang disebut orang tidak percaya. Mengikuti suara Allah adalah keputusan kita sebagai manusia yang tahu membedakan mana yang baik dan yang jahat.