Kemah Allah Seluas Dunia

Siapakah orang yang ingin hidup dalam kesusahan, penderitaan, dan kemalangan? Tidak ada! Tidak ada satupun orang yang ingin hidup di dalam situasi seperti itu. Semua orang tentunya ingin hidup dalam damai sejahtera dan sukacita. Oleh karena itu, ketika kita mengalami pergumulan dan kemudian pergumulan itu usai dan berganti dengan sukacita, kita ingin terus merasakan sukacita itu. Kita tidak mau melepaskan sukacita itu. Kita ingin ‘mendekap’ sukacita itu agar terus ada bersama dengan kita.
Hal yang serupa dirasakan oleh ketiga murid Tuhan Yesus yang perasaannya diucapkan oleh Petrus, “Guru, bertapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.” (Lukas 9:33). Ekspresi yang dikatakan oleh Petrus adalah ekspresi yang begitu wajar ketika seorang manusia menghadapi situasi yang membuatnya bersukacita. Petrus ingin mengabadikan momen bahagia itu dengan mendirikan kemah untuk Tuhan Yesus, Musa, dan Elia. Selain itu Petrus juga ingin memberikan penghargaan kepada
Namun, suara dari dalam awan menegur Petrus. Suara itu berkata, “inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” (Lukas 9:35). Perkataan itu jelas ingin menegur Petrus dan murid yang lain agar selalu mendengarkan Tuhan Yesus, dan bukan mendengarkan isi hatinya sendiri, meskipun isi hati itu belum tentu bermaksud jahat.
Kesediaan mendengar bukanlah perkara yang mudah, apalagi ketika kita diberikan karunia untuk berfikir. Tentu Tuhan ingin agar kita mengoptimalkan apa yang telah diberikanNya bagi kita. Namun, lebih dari itu, Tuhan ingin agar kita mendengarkanNya. Rencana Tuhan bukanlah rencana yang mendatangkan kecelakaan. Jadi, ketika kita memiliki maksud baik, marilah kita juga tetap membawa rencana itu kepada Tuhan, karena Dia pasti akan menyempurnakan rencana itu. Amin.