Hidup Dalam Rangkulan Cinta Allah

Kenikmatan pelukan dari orang yang mengasihi dan dikasihi adalah sebuah hal yang tidak akan pernah tergambarkan dengan kata-kata. Apalagi saat kita memiliki salah/dosa kepada orang tersebut dan kita tahu dengan pasti bahwa dia pasti mengampuni salah/dosa kita. Hal tersebutlah yang dirasakan oleh anak bungsu yang telah mengambil haknya dan pergi meninggalkan ayahnya untuk memboroskan harta serta menghabiskan semua yang dia punyai.

Dalam proses hidupnya, anak bungsu yang telah pergi meninggalkan bapanya untuk menghabiskan uang dengan cara yang tidak bertanggungjawab, dia mengingat dengan benar betapa damai hidup bersama dengan ayahnya tersebut. Apa yang dilakukan oleh anak bungsu tersebut:

1.Mengawali pertobatan dari hati
Anak bungsu tidak serta merta pulang dan mengaku bersalah kepada orang tuanya. Namun sebelum dia pulang, dia terlebih dahulu memikirkan dan merenungkan hal-hal yang akan dikatakannya. Tindakan ini adalah sebuah tindakan iman yang bertanggungjawab, menunjukkan komitmennya.

2. Melakukan komitmennya dengan kesadaran
Tidak hanya merencanakan apa yang baik, anak bungsu juga melakukan apa yang direncanakannya dengan utuh. Seringkali, dalam pertobatan, kita terbawa oleh suasana. Kondisi itu tentunya akan mengaburkan komitmen kita yang sesungguhnya. Anak bungsu tersebut tidak dikuasai emosi, namun dia berkuasa atas emosinya sendiri.

3. Mengingat bahwa semua ada campur tangan Sorgawi
Dalam perkataan pertobatannya, si anak bungsu berkata bahwa dia telah berdosa kepada bapa dan kepada sorga. Perkataan ini menunjukkan bahwa si anak bungsu tahu benar bahwa segala ‘kenyamanan hidup di dalam keluarganya’ tidak lepas dari campur tangan Allah di Sorga. Apa yang dipunya di dunia, itu adalah karunia dari sorga.

Marilah kita berbalik ke dalam pelukan Allah, karena di sana ada damai yang sejati.