Keramahan yang Menggembalakan

Bagaimana jika kita disakiti? Bagaimana jika kita ditinggalkan? Bagaimana jika kita tak dianggap? Bagaimana jika penghargaan yang seharusnya kita dapatkan tapi sama sekali tidak kita peroleh? Bagaimana jika semua itu terjadi dalam hidup kita? Apakah kita akan tetap bisa melakukan misi kita, ataukah kita akan terganggu dan akhirnya marah serta kehilangan keramahtamahan. Alih-alih menggembalakan, menyapa saja tidak sudi.

Menjadi gembala yang penuh kasih bisa kita lihat dari Tuhan Yesus Kristus. Pada saat para muridnya sedang sibuk dengan kegiatan mereka, Tuhan Yesus menyapa mereka. Pada awalnya para murid tidak mengenaliNya, namun itu tidak menggangguNya untuk menyapa mereka. Dia tetap menyapa, bahkan memberkati mereka.

Sesudah makan siang, Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus. Tuhan Yesus 2 (dua) kali bertanya, apakah Petrus mengasihi Yesus dengan kasih Agape? Namun, 2 (dua) kali juga Petrus menjawab bahwa kasihnya adalah kasih Philia. Oleh karena itu, Tuhan Yesus akhirnya bertanya, apakah Petrus mengasihiNya dengan kasih Philia? Di sinilah kemudian Petrus menangis karena haru atas penerimaan Tuhan Yesus kepadanya.

Relasi Tuhan Yesus dengan para muridNya mengajarkan dua hal kepada kita:

  1. Gembala itu Menerima

    Apapun kelemahan para muridNya, Tuhan Yesus dengan tangan terbuka menerima para murid. Mereka yang berjuang untuk menjadi setia. Mereka yang pernah menyangkal dan meninggalkan. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Allah itu menerima manusia dengan segenap kekurangan yang mereka miliki

  2. GembalaituMenyapa
    Tak hanya menerima, Tuhan Yesus juga menunjukkan bahwa Ia berinisiatif untuk mau menyapa. Ia menyapa murid-murid yang baru beberapa hari tak ketemu sudah lupa. Ia juga menyapa Petrus yang telah menyangkalNya sebanyak 3 kali.

Kita adalah gembala bagi sesama, apakah kita sudi menerima dan menyapa meski tidak diterima dan disapa?