Everlasting Live

Banyak orang berolahraga, membeli asuransi kesehatan, membeli kendaraan dan rumah dengan keamanan tinggi, tidak mengkonsumsi makanan sembarangan, dan berbagai hal lainnya; tujuannya untuk apa? Untuk mendapatkan hidup yang panjang. Jika tubuh sehat, jika makanan sehat, jika rumah aman, jika perjalanan terjamin, jika segala kecelakaan telah diasuransikan, maka bisa hidup lebih nyaman dan tenang. Sebagian manusia berharap bahwa mereka bisa hidup kekal.

Hidup kekal (everlasting life: tanpa akhir) menjadi incaran manusia. Berbagai upaya dilakukan, berbagai cara diusahakan agar mereka bisa serupa dengan Tuhan mereka yang kekal (eternal life: tanpa awal dan akhir). Namun begitu, apakah yang harus kita lakukan supaya kita bisa hidup kekal? Apakah cukup hanya dengan makan-makanan sehat, punya asuransi jiwa dan kesehatan, punya keamanan, ataukah ada hal yang lainnya?

Tuhan Yesus, dalam injil Yohanes yang kita baca, memberikan kunci untuk bisa hidup kekal. Hal tersebut terdapat di dalam ayat 27-28, “Domba-dombak-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Apa yang disampaikan Tuhan Yesus untuk mendapatkan hidup yang kekal: pertama, mendengar; kedua, mengikuti.

Sebagai domba-domba Allah, apakah kita mendengarkan Dia? Apakah yang kita dengarkan dari-Nya? Mendengar tentu bisa kita lakukan. Melalui firman Allah yang kita baca dan renungkan, melalui lagu-lagu rohani, melalui khotbah-khotbah di mimbar, radio, youtube, dan sebagainya kita bisa mendengar firman Allah. Itu baik. Namun, apakah hal itu sudah cukup? Belum.

Satu hal yang harus kita lakukan untuk bisa mendapatkan hidup kekal dari Allah adalah dengan mengikuti-Nya. Kita bisa mendengar suara-Nya, namun apakah kita bersedia mengikuti-Nya? Mengikuti-Nya berarti hanya mendengarkan suara-Nya saja, lalu mengarahkan langkah kita agar searah dengan langkah-Nya. Telinga, fikiran, mata, tubuh, seluruhnya terarah kepada-Nya dan mengikuti-Nya. Ini tidak mudah, karena kita harus mematikan keinginan kita. Namun bersediakah kita?