Hari Sabat, Hari Yang Terindah

Penghayatan mengenai hari Sabat adalah hari ‘istirahat’ untuk bekerja telah merasuk sedemikian rupa di dalam diri orang Yahudi. Untuk hari istirahat tersebut dibuatlah aturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, misal: tidak boleh membawa beban, tidak boleh bepergian/perjalanan jauh, tidak boleh mengobati/menyembuhkan, tidak boleh menulis, tidak boleh membuat simpul, dan berperang/membela diri. Sepintas larangan-larangan tersebut memiliki tujuan yang baik agar umat menjaga hari Sabat untuk bisa bersekutu dengan Allah.

Namun, larangan-larangan tersebut menjadi tidak bisa dipertanggungjawabkan karena pada akhirnya larangan-larangan tersebut dipakai untuk ‘menghakimi’ orang lain. Bahkan seperti dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Tuhan Yesus pun ditegor karena melakukan ‘penyembuhan’ atas diri seorang perempuan yang telah 18 tahun dirasuk roh sehingga sakit sampai bungkuk dan tidak bisa berdiri lagi dengan tegak(Lukas 13:11).

Berdalih ada 6 hari untuk bekerja, kepala rumah ibadat menegor Tuhan Yesus untuk menyembuhkan orang tidak di hari Sabat. Namun, tegoran itu justru berbalik kepada mereka sendiri ketika Tuhan Yesus berkata bahwa merekapun melepas dan membawa lembu atau keledai mereka pada hari Sabat (Lukas 13:15).

Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus adalah sama dengan apa yang dilakukan oleh kepala rumah ibadat dan orang-orang yang menegurnya. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Dia memberikan belas kasihan kepada perempuan yang sudah 18 tahun mengalami sakit. Hari Sabat menjadi hari yang istimewa karena Tuhan bersukacita atas semua ciptaan yang tercipta dengan amat baik. Di dalam sukacita itupun seluruh ciptaan-Nya harus berbahagia, bukan justru terkekang oleh aturan-aturan yang dibuat manusia. Apakah peribadatan kita di hari ini juga diwarnai dengan sukacita dan kemerdekaan memuliakan Tuhan? Apakah semua pelayan merasa bersukacita melayani, ataukah masih ada yang tinggal dalam ketakutan dan keterpaksaan?