Bukan Yang Tampak Melainkan Dampak

Memiliki air asin sebanyak samudera tidak akan ada gunanya jika air itu tidak diproses menjadi garam dan diletakkan di dapur untuk memasak. Demikian pula sebuah mobil yang memiliki lampu terang, tetapi lampunya dipadamkan saat malam hari—terang itu menjadi sia-sia. Air laut menjadi berguna ketika diolah menjadi garam dapur, dan lampu mobil berguna ketika menyala di gelapnya malam. Keduanya menjadi berarti bukan karena jumlah atau bentuknya, melainkan karena dampaknya.

Hal inilah yang disampaikan Tuhan Yesus ketika menyebut umat-Nya sebagai garam dunia dan terang dunia (Matius 5:13–16). Umat Tuhan dipanggil bukan sekadar hadir, tetapi memberi rasa dan menerangi. Garam yang tidak memberi rasa akan dibuang, dan terang yang disembunyikan kehilangan maknanya.

Yesus kemudian menegaskan bahwa hidup keagamaan umat-Nya harus melampaui ahli Taurat dan orang Farisi (Matius 5:20). Iman tidak berhenti pada pengetahuan, hafalan, atau penguasaan firman, tetapi diwujudkan dalam ketaatan sehari-hari. Ketika umat Tuhan hidup sebagai pelaku firman, di situlah iman menjadi nyata—bukan pada apa yang tampak, melainkan pada dampak yang dihadirkan.