Percaya Pada Allah Yang Hidup

Orang Saduki tidak percaya tentang kebangkitan. Oleh karena itu mereka berselisih dengan orang Farisi dan juga dengan Yesus yang ajarannya mendukung tentang hal tersebut. Pertanyaan mereka terhadap Tuhan Yesus dalam Injil Lukas ini menyiratkan asumsi bahwa kebangkitan hanyalah perpanjangan dari kehidupan yang mereka ketahui. Mereka bertanya tentang pernikahan levirat dan relasi mereka setelah kebangkitan kelak, apakah perempuan itu akan memiliki tujuh suami?

Tuhan Yesus memberikan jawaban mengenai pertanyaan di atas. Pernikahan adalah urusan dunia saat ini. Namun, kehidupan dalam kebangkitan adalah tentang persekutuan rohani yang melampaui ikatan duniawi. Pesan dan makna dari jawaban itu dikaitkanNya dalam tradisi Musa (Nabi yang juga dihormati oleh orang Saduki). Jika Allah nenek moyang mereka memang Allah orang hidup, maka nenek moyang mereka pasti hidup di hadirat Allah.

Orang Saduki memiliki kekhawatiran dan kecemasan tentang apa yang tidak mereka percayai dan yakini. Namun Tuhan Yesus menekankan bahwa bagi orang yang percaya kepada Allah, tidak perlu ada hal apapun yang patut dirisaukan. Tuhan Yesus mengajak orang Saduki dan kita semua untuk tidak cemas, melainkan percaya pada Allah yang hidup. Jika kelak kita mati, kita akan ada di hadiratNya.